HALMAHERA SELATAN — Di tengah deru mesin dan debu halus yang menyelimuti lembah Desa Kusubibi, ada kisah yang tak sekadar soal tambang. Di tempat yang disebut secara hukum belum memiliki izin resmi, tersimpan sebuah realitas yang menyentuh hati: keringat warga di sana bukan hanya untuk mengisi perut hari ini, melainkan untuk membangun masa depan anak-anak mereka.
Selama bertahun-tahun, warga Desa Kusubibi berjuang memanfaatkan kekayaan alam yang ada di tanah kelahiran mereka. Meski diketahui kegiatan penambangan ini belum memiliki kelengkapan dokumen yang sah, namun bagi masyarakat setempat, itulah satu-satunya jalan yang terbuka untuk menyambung hidup. Tanpa lahan luas, tanpa pekerjaan tetap, mereka turun ke lubang dengan harapan sederhana: agar anak-anak bisa terus bersekolah.
Dan doa itu tak sia-sia. Dari hasil kerja keras yang sederhana namun penuh pengorbanan itu, lahirlah perubahan nyata. Banyak anak dari keluarga penambang kini duduk di bangku kuliah — mengejar ilmu, membuka lembaran baru yang tak sempat dinikmati orang tuanya. Bahkan di antara mereka, ada yang telah lulus dan mengenakan seragam kebanggaan menjadi abdi negara: menjaga tanah air, melayani masyarakat, membuktikan bahwa putra-putri Kusubibi mampu berdiri tegak di barisan terbaik bangsa.
”Inilah buah keringat kami,” ujar seorang warga dengan mata berkaca-kaca. “Kami tahu jalan yang kami tempuh belum sempurna. Namun apa lagi yang bisa kami lakukan, demi melihat anak-anak kami tidak terhenti di jalanan?”
Kisah Kusubibi bukanlah pembela atas ketidak beraturan, melainkan cerminan perjuangan tulus rakyat kecil yang berusaha bangkit dari keterbatasan. Di sana, setiap butir emas yang didapat bukan sekadar benda berharga — ia adalah biaya pendidikan, harapan masa depan, dan bukti cinta orang tua yang tak kenal lelah.
Masyarakat Kusubibi berharap: agar di kemudian hari, ada jalan yang lebih terang, lebih sah, dan lebih berkah untuk mengelola anugerah alam di tanah mereka. Agar anak-anak yang telah sukses itu suatu hari nanti pulang membawa ilmu, membangun desanya dengan cara yang terhormat, sehingga tak ada lagi ayah atau ibu yang harus turun ke lubang gelap demi masa depan buah hatinya.
Karena sejatinya, kekayaan yang paling berharga dari Desa Kusubibi bukanlah emas yang di keduk — melainkan anak-anak yang tumbuh menjadi insan berilmu, berbakti, dan membanggakan bangsa
red: AMKEY











