Gaji Tak Dibayar, Karyawan Mengaku Dibebani Ganti Rugi Rp6 Juta, Malut Gadget Ternate Jadi Sorotan

Minggu, 12 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TERNATE,  – Polemik dugaan penahanan gaji karyawan dan pembebanan kerugian akibat selisih stok barang di salah satu toko elektronik, Malut Gadget Ternate, kembali mencuat. Setelah sebelumnya pihak manajemen memberikan penjelasan mengenai proses evaluasi internal, kini mantan karyawan berinisial L membeberkan kronologi yang menurutnya menjadi awal persoalan hingga hak upahnya belum juga diterima.

Menurut L, perusahaan rutin melaksanakan stok opname setiap akhir bulan untuk menghitung seluruh persediaan barang. Pada hasil perhitungan bulan Mei 2026, selisih stok disebut masih dalam batas yang sangat kecil dan tidak menimbulkan persoalan berarti.

«”Setiap akhir bulan kami memang selalu hitung stok. Waktu bulan Mei hasilnya aman-aman saja, cuma minus sekitar Rp200 ribu,” ungkap L, Sabtu (11/7/2026).»

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun situasi berubah drastis saat dilakukan stok opname bulan Juni. Berdasarkan hasil evaluasi internal perusahaan, muncul selisih stok yang nilainya disebut mencapai sekitar Rp25 juta.

«”Pas bulan Juni mereka bilang stok minus Rp25 juta. Sampai sekarang saya juga tidak tahu minus itu dari mana,” katanya.»

L mengaku, sejak jadwal pembayaran gaji pada tanggal 5 Juni, hak upahnya tidak kunjung dibayarkan. Ia baru memperoleh penjelasan beberapa hari kemudian bahwa pembayaran masih ditunda karena perusahaan sedang melakukan evaluasi.

«”Gaji saya tertahan. Dari tanggal 5 sampai tanggal 9 saya belum dapat apa-apa. Alasannya tunggu evaluasi selesai,” ujarnya.»

Setelah proses evaluasi berlangsung, L mengaku diberitahu bahwa dirinya diwajibkan mengganti kerugian perusahaan sebesar Rp6 juta, yang rencananya akan dipotong secara bertahap dari penghasilannya.

«”Setelah evaluasi selesai, saya diberi tahu kalau harus ganti Rp6 juta dan nanti dicicil setiap bulan,” jelasnya.»

Tak hanya itu, ia juga mengaku mendapat penjelasan bahwa apabila memilih mengundurkan diri, dirinya tetap dikenakan penalti sebesar Rp2,4 juta. Sementara beberapa karyawan lain disebut memiliki nominal tanggung jawab yang berbeda.

«”Kalau resign katanya kena penalti Rp2,4 juta. Ada juga yang disebut harus tanggung Rp15 juta. Tapi saya tidak tahu bagaimana mekanismenya,” ucapnya.»

Hal yang paling disesalkan L adalah hingga kini dirinya belum menerima gaji maupun insentif penjualan yang menurutnya telah menjadi hak sebagai pekerja.

«”Saya ingin tahu dasar perhitungan kerugiannya dari divisi mana. Gaji pokok saya sekitar Rp3 juta ditambah insentif target sekitar Rp1,5 juta. Tapi sampai sekarang saya tidak terima sepeser pun,” tuturnya.»

L juga membantah anggapan bahwa dirinya mangkir dari pekerjaan. Ia menegaskan ketidakhadirannya selama tiga hari disebabkan sakit dan telah dibuktikan dengan Surat Keterangan Dokter (SKD) yang diserahkan kepada bagian HRD perusahaan.

 

«”Saya sudah sampaikan ke HRD kalau tiga hari tidak masuk karena sakit dan ada surat keterangan dokter. Bukan saya lari dari tanggung jawab,” tegasnya.»

Atas persoalan tersebut, L berharap Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Ternate segera turun tangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran hak-hak pekerja.

“Kami hanya ingin hak kami dibayarkan dan persoalan ini diselesaikan secara adil sesuai aturan yang berlaku,” katanya.

Sementara itu, perwakilan manajemen Malut Gadget menjelaskan bahwa mekanisme pembayaran hak dan kewajiban karyawan mengikuti periode administrasi perusahaan yang berlangsung setiap tanggal 5 setiap bulan.

Namun khusus dalam kasus yang dipersoalkan, perusahaan menyatakan pembayaran upah belum dapat dilakukan karena proses pendataan serta evaluasi internal masih berjalan.

Manajemen juga menegaskan bahwa keputusan akhir belum bisa diambil karena pihak yang dinilai paling bertanggung jawab terhadap pengelolaan toko belum menghadiri forum musyawarah internal yang telah dijadwalkan.

Hingga berita ini diterbitkan, polemik mengenai dugaan penahanan upah, pembebanan kerugian selisih stok, serta mekanisme pertanggungjawaban karyawan masih menunggu penyelesaian dan klarifikasi lebih lanjut dari seluruh pihak terkait. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab apabila terdapat informasi tambahan atau tanggapan resmi dari pihak perusahaan maupun instansi berwenang.

Berita Terkait

BWS Maluku Utara Siaga Hadapi Potensi Kekeringan, Distribusi Air Bersih untuk warga Kota Tidore dan Kota Ternate.
Ilham Saleh: Yakin Brasil Raih Gelar Juara Piala Dunia 2026 dan Tambah Bintang Keenam
Dugaan Pungli Ijazah di SMPN 10 Kota Ternate Mencuat, Kepsek: Itu Kesepakatan Orang Tua dan Komite
Maluku Utara Makin Aman, Kasus Pencurian dan Perampasan Hanya Rata-Rata Satu Kasus per Pekan
Hari Lahir Pancasila, HMI FISIP UMMU Soroti Krisis Keadilan dan Lingkungan di Maluku Utara
UT Ternate Wisuda 320 Lulusan, Tegaskan Peran Pendidikan Jarak Jauh di Wilayah Kepulauan
BADKO HMI Maluku Utara Desak Pemerintah dan Legislatif Berhenti Tutup Mata: “Jangan Biarkan Standar Kapal Tidak Manusiawi”
Mahasiswa FEBI IAIN Ternate Asah Riset Lewat Pelatihan EViews
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 22:05

BWS Maluku Utara Siaga Hadapi Potensi Kekeringan, Distribusi Air Bersih untuk warga Kota Tidore dan Kota Ternate.

Minggu, 12 Juli 2026 - 09:48

Gaji Tak Dibayar, Karyawan Mengaku Dibebani Ganti Rugi Rp6 Juta, Malut Gadget Ternate Jadi Sorotan

Sabtu, 27 Juni 2026 - 20:08

Ilham Saleh: Yakin Brasil Raih Gelar Juara Piala Dunia 2026 dan Tambah Bintang Keenam

Jumat, 26 Juni 2026 - 21:24

Dugaan Pungli Ijazah di SMPN 10 Kota Ternate Mencuat, Kepsek: Itu Kesepakatan Orang Tua dan Komite

Minggu, 7 Juni 2026 - 19:14

Maluku Utara Makin Aman, Kasus Pencurian dan Perampasan Hanya Rata-Rata Satu Kasus per Pekan

Berita Terbaru