RAHMAT IKRAM Salah satu mahasiswa IAIN TERNATE Menanggapi polemik pendidikan yang ada di desa Kasiruta Dalam.
HALSEL, newsline.id_ Pendidikan seharusnya menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih cerah, namun di desa Kasiruta Dalam , konflik pendidikan justru menjadi penghalang besar bagi anak-anak untuk meraih hak mereka atas pembelajaran yang berkualitas. Wilayah ini, yang terletak di ujung timur Pulau kasiruta, Halmahera Selatan, Maluku Utara, menghadapi berbagai tantangan struktural yang membuat akses pendidikan menjadi tidak merata.
Mulai dari minimnya infrastruktur sekolah, kekurangan tenaga pengajar, hingga rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan, semua faktor ini saling berkelindan dan menciptakan lingkaran ketidakadilan yang sulit diputus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu konflik utama yang terjadi adalah ketimpangan akses pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Di pusat-pusat kota, sekolah-sekolah relatif lebih maju dengan fasilitas yang memadai dan guru-guru yang berkualitas. Namun, di daerah pedesaan dan terpencil, anak-anak harus berjuang untuk sekadar mendapatkan bangunan sekolah yang layak.
Misalnya, di Desa terpencil yang ada di pulau Kasiruta Dalam, siswa-siswa harus belajar di ruangan yang tidak memadai. Ketimpangan ini tidak hanya menghambat proses belajar-mengajar, tetapi juga memperlebar jurang sosial antara masyarakat yang tinggal di kota dan desa.
Selain masalah infrastruktur, konflik pendidikan di desa kasiruta dalam kecematan kasiruta timur juga dipicu oleh kurangnya tenaga pengajar yang kompeten. Banyak guru yang enggan ditempatkan di daerah terpencil karena alasan kenyamanan dan fasilitas yang minim.
Akibatnya, sekolah-sekolah di daerah ini sering kekurangan guru, bahkan ada yang harus mengajar beberapa kelas sekaligus. Hal ini tentu berdampak pada kualitas pembelajaran siswa, yang pada akhirnya akan memengaruhi masa depan mereka. Pemerintah kota dan daerah seharusnya lebih proaktif dalam mengatasi masalah ini, misalnya dengan memberikan insentif yang memadai bagi guru yang bersedia mengabdi di daerah terpencil.
Meskipun begitu, harapan untuk pendidikan yang lebih baik di desa kasiruta dalam kecematan kasiruta timur tidak pernah padam.
Masyarakat setempat, terutama para pemuda, mulai menyadari pentingnya pendidikan sebagai kunci untuk membuka pintu kesempatan yang lebih luas. Beberapa organisasi non-pemerintah juga turut membantu dengan memberikan bantuan berupa buku, alat tulis, dan pelatihan bagi guru-guru lokal. Namun, upaya ini belum cukup jika tidak didukung oleh kebijakan yang komprehensif dari pemerintah.
Pendidikan di desa kasiruta dalam membutuhkan solusi yang holistik, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas tenaga pengajar, hingga pemberdayaan masyarakat.
Tim/Red











