Halmahera Barat, newsline.id– Gunung Ibu, gunung api aktif di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ibu, pada Jumat (10/10/2025), gunung ini mencatatkan 127 kali letusan dalam kurun waktu 24 jam. Kolom asap berwarna putih hingga kelabu teramati membumbung setinggi 500 hingga 800 meter di atas puncak kawah, menandakan aktivitas yang kian intens.
Pengamat Gunung Ibu, M. Saum Amin, menjelaskan bahwa pengamatan menunjukkan aktivitas kegempaan yang beragam.
“Tercatat 1 gempa hembusan, 20 kali gempa tremor harmonik, 5 kali gempa tornillo, 165 kali gempa low frekuensi, 271 kali gempa vulkanik dangkal, 3 kali gempa vulkanik dalam, 4 kali gempa tektonik lokal, 1 kali gempa terasa, dan 14 kali gempa tektonik jauh,” ungkap Saum pada Sabtu (11/10/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Data ini menggambarkan tingkat aktivitas geologis yang tinggi di Gunung Ibu.
Dengan kondisi ini, Gunung Ibu tetap berada pada status Level II (Waspada). Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif. Sebagai langkah antisipasi tambahan, zona kewaspadaan diperluas hingga 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di sisi utara, yang merupakan area paling rawan terhadap aktivitas vulkanik.
M. Saum juga mengingatkan warga untuk mewaspadai potensi hujan abu yang dapat terjadi akibat letusan.
“Jika hujan abu terjadi, kami menyarankan masyarakat menggunakan pelindung seperti masker dan kacamata saat beraktivitas di luar rumah untuk menjaga kesehatan pernapasan dan mata,” tambahnya.
Pos Pengamatan Gunung Ibu terus memantau aktivitas gunung yang dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia ini. Masyarakat di sekitar Gunung Ibu diminta untuk tetap tenang namun waspada, serta hanya mengacu pada informasi resmi yang dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Hal ini penting untuk menghindari informasi yang tidak akurat yang dapat memicu kepanikan.
Peningkatan aktivitas Gunung Ibu ini menjadi pengingat akan dinamika alam yang terus bergerak. Masyarakat diimbau untuk mematuhi zona aman yang telah ditetapkan dan selalu siaga menghadapi kemungkinan eskalasi aktivitas vulkanik.(**)












