Lelilef_ Menanggapi pemberitaan terkait dugaan kekurangan sopir ambulans, persoalan gaji, serta kebutuhan BBM di UPTD Puskesmas Lelilef, Kepala UPTD Puskesmas Lelilef memberikan klarifikasi terkait kondisi sebenarnya di lapangan. Senin, 29-06-2026
Kepala UPTD Puskesmas Lelilef menjelaskan bahwa hingga saat ini petugas khusus pengemudi Ambulance memang masih berjumlah satu orang. Pihak puskesmas telah berupaya melakukan perekrutan tenaga tambahan karena Puskesmas memiliki 2 unit mobil Ambulance, namun sampai saat ini belum mendapatkan tenaga yang bersedia.
“Terkait ketersediaan petugas ambulans, saat ini memang masih terdapat satu orang tenaga yang bertugas. Pihak Puskesmas telah melakukan berbagai upaya untuk merekrut tenaga tambahan, namun hingga saat ini belum memperoleh tenaga yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan tersebut”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Petugas ambulance tersebut merupakan tenaga Outsourcing dengan sistem pembayaran gaji sebesar Rp1.500.000 per bulan. Selain itu, terdapat tambahan insentif yang bersumber dari dana jasa JKN Puskesmas, yang jumlahnya dapat berubah sesuai dengan besaran dana kapitasi yang diterima setiap bulan. Dengan demikian, total penghasilan petugas ambulans saat ini berada di atas Rp2 juta per bulan,” jelasnya.
Menurutnya, kendala utama bukan persoalan anggaran, tetapi lebih kepada sulitnya mendapatkan tenaga sopir ambulance di wilayah lingkar tambang. Persaingan dengan perusahaan pertambangan yang menawarkan penghasilan lebih besar membuat masyarakat lebih memilih bekerja di sektor tersebut.
“Kami terus melakukan perekrutan, tetapi mungkin karena berada di daerah lingkar tambang, banyak yang lebih memilih menjadi karyawan perusahaan karena penghasilannya lebih besar. Ini menjadi tantangan kami dalam mendapatkan tenaga sopir ambulans,” ujarnya.
Kapus Lelilef juga menjelaskan bahwa kondisi keterbatasan tenaga terkadang membuat tenaga kesehatan harus mengambil peran tambahan untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.
“Dalam kondisi tertentu, tenaga kesehatan seperti perawat juga ikut mengambil peran sebagai pengemudi ambulans, terutama ketika ada rujukan yang bersamaan. Misalnya sopir ambulans sedang membawa pasien rujukan ke RS Weda, kemudian tiba-tiba ada pasien dengan kondisi urgen yang harus segera dirujuk. Dalam kondisi seperti itu, mau tidak mau tenaga kesehatan harus membantu agar pelayanan tidak terhenti,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pihak Puskesmas Lelilef tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat meskipun menghadapi keterbatasan sumber daya.
“Kami berharap masyarakat dapat memahami kondisi ini. Kami tetap berusaha semaksimal mungkin agar pelayanan ambulans dan rujukan tetap berjalan dengan baik,” tutupnya.
Kapus Lelilef juga menanggapi adanya berbagai informasi dan asumsi yang berkembang di luar terkait pelayanan ambulans. Ia berharap setiap persoalan dapat dikomunikasikan secara langsung dengan pihak Puskesmas agar informasi yang diterima masyarakat benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Kami sangat terbuka untuk komunikasi dan klarifikasi. Apabila ada informasi atau hal yang perlu ditanyakan terkait pelayanan maupun operasional ambulans, sebaiknya dapat disampaikan langsung kepada kami agar mendapatkan penjelasan yang jelas berdasarkan kondisi yang sebenarnya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, komunikasi yang baik antara masyarakat, media, dan pihak pelayanan kesehatan sangat penting dalam menjaga kepercayaan serta meningkatkan kualitas pelayanan publik.
“Kami memahami bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui kondisi pelayanan. Namun kami juga berharap setiap informasi yang berkembang dapat dikonfirmasi terlebih dahulu, sehingga tidak menimbulkan asumsi-asumsi yang belum mendapatkan penjelasan langsung dari pihak yang bertanggung jawab,” pungkas Kapus.












