TERNATE – Ketegangan yang sempat memanas di Kecamatan Ternate Barat akhirnya mereda setelah Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate, Rizal Marsaoly, turun langsung ke lapangan pada Jumat (24/4/2026). Kehadiran orang nomor dua di pemerintahan kota itu menjadi kunci dalam menjembatani dialog antara pemerintah dan warga Kelurahan Tobololo serta Sulamadaha yang sebelumnya melakukan aksi penutupan akses jalan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Takome.
Aksi protes yang berlangsung di depan Gereja Tabanga tersebut merupakan bentuk keputusasaan warga atas berbagai persoalan menahun yang belum juga menemukan solusi. Warga memblokir jalur utama, satu-satunya akses logistik menuju TPA, sebagai sinyal keras bahwa patience mereka telah habis.
Merespons situasi genting tersebut, Sekda Rizal Marsaoly mengambil langkah sigap dengan mendatangi lokasi kejadian. Tujuannya jelas: memastikan situasi tetap kondusif dan mencegah potensi konflik horizontal yang lebih luas antara warga dan petugas pengelola sampah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya hadir di sini untuk mendengarkan, bukan untuk memerintah. Kita harus duduk bersama mencari jalan keluar sebelum situasi bertambah rumit,” ujar Rizal saat membuka sesi dialog di tengah kerumunan warga.
Pendekatan persuasif yang diambil Sekda tampaknya efektif meredam emosi massa. Alih-alih menggunakan pendekatan keamanan yang kaku, Rizal memilih membuka ruang komunikasi dua arah, memberikan kesempatan bagi perwakilan warga untuk menyampaikan uneg-uneg mereka secara langsung.
Dalam dialog yang berlangsung alot namun konstruktif tersebut, warga menumpahkan berbagai keluhan yang telah mereka pendam lama. Isu utama yang mengemuka adalah dampak lingkungan akibat operasional TPA Takome yang dinilai tidak memenuhi standar kelayakan.
“Bau busuk sudah menjadi makanan sehari-hari kami. Tidak hanya mengganggu kenyamanan, kami sangat khawatir akan dampak jangka panjang terhadap kesehatan anak-anak dan lansia di sekitar sini,” keluh salah satu perwakilan warga Tobololo dengan nada tinggi, disambut anggukan rekan-rekannya.
Warga juga menyoroti minimnya sosialisasi dan tindakan nyata dari pemerintah daerah dalam menanggulangi pencemaran lingkungan di wilayah mereka. Bagi mereka, keberadaan TPA yang seharusnya menjadi solusi pengelolaan sampah kota, justru berubah menjadi sumber masalah bagi masyarakat sekitar.
Menanggapi deretan keluhan tersebut, Sekda Rizal Marsaoly tidak tinggal diam. Ia memberikan penjelasan mengenai kendala teknis yang dihadapi dinas terkait, sekaligus menegaskan komitmen penuh Pemkot Ternate untuk segera menindaklanjuti aspirasi warga.
“Pemerintah mengakui adanya kekurangan dalam pengelolaan dampak lingkungan di TPA Takome. Saya berjanji, setiap poin keluhan yang disampaikan hari ini akan kami catat dan jadikan prioritas untuk ditindaklanjuti minggu ini juga,” tegas Rizal.
Ia juga mengajak warga untuk bersama-sama mencari win-win solution. Rizal menekankan bahwa pembukaan kembali akses jalan sangat krusial agar layanan pengangkutan sampah di Kota Ternate tidak lumpuh total, yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah sanitasi baru di permukiman warga kota.
Langkah dialogis yang ditempuh Sekda Rizal Marsaoly ini dinilai sebagai angin segar dalam resolusi konflik sosial di Ternate. Pendekatan yang mengedepankan komunikasi langsung terbukti mampu membangun jembatan kepercayaan yang sempat retak antara pemerintah dan masyarakat.
Kedua belah pihak sepakat untuk membentuk tim gabungan guna memantau realisasi janji pemerintah dalam menangani dampak lingkungan TPA Takome. Dengan adanya kesepakatan awal ini, diharapkan akses jalan menuju TPA dapat segera dibuka kembali tanpa meninggalkan rasa ketidakadilan di hati warga.
Kasus di Ternate Barat ini menjadi pelajaran penting bahwa dalam setiap kebijakan publik, terutama yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan lingkungan, komunikasi yang intensif dan empati dari pemimpin daerah adalah kunci utama menjaga harmoni sosial. Kota Ternate kini menanti langkah konkret selanjutnya dari pemerintah daerah untuk membuktikan bahwa dialog bukan sekadar basa-basi, melainkan awal dari perubahan nyata
Tim/red











