Halmahera Selatan, newsline.id– Di tengah hiruk-pikuk pembangunan yang kian merata di Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), suara rakyat Desa Balitata, Kecamatan Gane Barat, kini bergema lantang. Sebuah unggahan pilu di media sosial menjadi panggilan darurat: jalan tanah berlubang yang menghubungkan desa terpencil ini ke peradaban luar bukan sekadar hambatan, melainkan pencuri mimpi bagi ratusan warga, terutama anak-anak sekolah yang terjebak banjir musiman.
“Andai bisa mendapatkan sedikit perhatian dari Bapak Bupati yang pernah dulu kami dengar syair yang indah keluar dari mulut Bapak, yang katanya akan diusahkan,” tulis seorang warga Desa Balitata dalam postingan viral di grup Facebook lokal, yang kini telah dibagikan ratusan kali sejak kemarin.
Unggapan itu ditujukan langsung kepada Bupati Halsel, Hasan Ali Bassam Kasuba, yang baru saja dilantik untuk periode 2025-2030 dengan janji mempercepat infrastruktur pedesaan.
Desa Balitata, rumah bagi sekitar 500 jiwa yang bergantung pada pertanian sagu dan perikanan tradisional, terisolasi oleh jalan setapak berbatu yang membentang sekitar 10 kilometer menuju Desa Saketa—pusat kecamatan terdekat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Mulai sejak itu saya menaruh harapan besar sama Bapak Bupati dan selalu menghayal: andai ada jalanan aspal dari Desa Balitata menuju Desa Saketa, kami akan sangat senang sekali. Karena inilah mimpi kami, anak desa Balitata,” lanjut pernyataan itu, yang disertai foto-foto jalan becek dan sungai kecil yang meluap saat hujan deras.
Keluhan tak berhenti di situ. Akses internet yang minim memaksa warga bergantung pada sinyal WiFi lemah dari tetangga, sementara layanan dasar seperti Brilink—agen tarik tunai Bank BRI—hanya ada di Saketa.
“Kalo mau tarik uang mesti pergi ke Saketa melewati jalan ini. Mau sekolah SMP atau SMA juga harus ke sana,” tambah warga tersebut.
Hidangan sederhana seperti bakso, mie ayam, atau lalapan pun menjadi barang langka, simbol keterpencilan yang membuat kehidupan sehari-hari terasa seperti perjuangan tanpa akhir.
Dampaknya paling terasa pada generasi muda. Saat musim hujan tiba, sungai-sungai kecil di sepanjang rute sering banjir, memaksa siswa putus sekolah sementara.
“Anak-anak sekolah terpaksa harus libur ke sekolah, Pak. Ada yang pakai motor, ada yang naik mobil pickup—tapi kalau hujan, semuanya mandek,” ungkap postingan itu, yang kini menjadi sorotan netizen Halsel.
Beberapa komentar mendukung: “Ini bukan cuma masalah Balitata, tapi seluruh Gane Barat yang butuh perhatian Bupati!”
Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba, yang dikenal dengan orasi penuh inspirasi saat kampanye, belum merespons secara resmi. Namun, dalam pidato pelantikannya Agustus lalu, ia menekankan prioritas pada infrastruktur desa sebagai “amanah untuk kesejahteraan rakyat”.
Kisah Desa Balitata mengingatkan pada tantangan klasik Maluku Utara: di mana keindahan alam bertemu ketidakmerataan pembangunan. Dengan postingan ini, warga tak lagi hanya berharap—mereka menuntut. “Buat Bapak Bupati Halsel, semoga dapat dilihat dan direspon dengan baik-baik,” tutup unggahan tersebut. Apakah “syair indah” janji bupati akan berubah menjadi aspal nyata? Waktu akan menjawab, tapi bagi anak-anak Balitata, setiap hari tanpanya adalah satu mimpi yang tertunda lagi.
Tim/Red











