Bisui__newsline.id_17 Juli 2025 – Suasana mencekam melanda Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Pratama Bisui pada Rabu malam, 16 Juli 2025, sekitar pukul 11.28 WIT. Direktur rumah sakit, dr. Elisabeth Bernadate, diduga bertindak arogan dengan mengamuk dan menarik kasur yang digunakan perawat dan bidan jaga malam di depan pasien serta keluarga pasien, tanpa penjelasan yang memadai. Insiden ini memicu gelombang kekecewaan di kalangan tenaga kesehatan dan masyarakat setempat.
Kejadian bermula di tengah situasi IGD yang penuh sesak, dengan semua tempat tidur pasien terisi. Dalam kondisi tersebut, dr. Elisabeth tiba-tiba menarik matras yang digunakan petugas jaga malam untuk beristirahat, dengan alasan bahwa matras tersebut merupakan inventaris ruang rawat inap, bukan untuk keperluan IGD. Tindakan ini dilakukan dengan nada tinggi dan tanpa mempedulikan kehadiran pasien serta keluarga yang menyaksikan, sehingga menimbulkan rasa malu dan ketidaknyamanan bagi perawat dan bidan yang bertugas.

Akibatnya, petugas jaga malam terpaksa beristirahat di lantai, hanya beralaskan kardus yang dilapisi tikar plastik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami benar-benar terkejut dan merasa dipermalukan. Kami sedang bekerja keras menangani pasien dalam kondisi IGD yang penuh, tapi tiba-tiba kasur ditarik begitu saja. Ini bukan cara yang tepat untuk menegakkan aturan,” ungkap seorang perawat yang enggan disebutkan namanya.
Tindakan direktur ini memicu reaksi keras dari tenaga kesehatan di RS Pratama Bisui. Mereka menilai sikap dr. Elisabeth mencerminkan kurangnya empati terhadap tekanan kerja di IGD.
“Kami paham ada aturan soal inventaris, tapi ini soal cara penyampaian. Menarik kasur di depan pasien dengan nada tinggi itu sangat tidak manusiawi,” ujar seorang bidan yang turut bertugas malam itu.
Insiden ini juga mengundang sorotan dari masyarakat Bisui. Beberapa keluarga pasien yang menyaksikan kejadian menyayangkan sikap direktur, yang dinilai jauh dari sikap profesional. “Seharusnya seorang direktur memberikan contoh kepemimpinan yang baik, bukan malah membuat suasana tegang di IGD,” kata seorang warga yang keluarganya sedang dirawat.
Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten diminta segera turun tangan untuk menyelidiki kasus ini dan memastikan lingkungan kerja yang mendukung tenaga kesehatan.
“Tenaga kesehatan adalah tulang punggung pelayanan rumah sakit. Mereka perlu dihargai, bukan dipermalukan. Kami berharap ada mediasi agar kejadian ini tidak terulang,” ujar tokoh masyarakat setempat, Bapak Markus, yang juga menyuarakan pentingnya evaluasi manajemen rumah sakit.
Hingga berita ini ditulis, pihak manajemen RS Pratama Bisui belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Namun, kejadian ini telah menjadi perbincangan hangat di kalangan warga, yang kini menantikan langkah konkret dari rumah sakit untuk menyelesaikan konflik dan memastikan pelayanan kesehatan tetap optimal.
Insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya komunikasi yang efektif dan penghormatan terhadap tenaga kesehatan, terutama di tengah tekanan kerja di IGD. Masyarakat berharap RS Pratama Bisui segera mengambil tindakan untuk memulihkan kepercayaan dan menjaga harmoni di lingkungan rumah sakit.
Catatan: Hingga saat ini, dr. Elisabeth Bernadate belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut, dan investigasi lebih lanjut diharapkan untuk mengungkap kronologi serta solusi dari insiden ini.
TIM/RED











