Melestarikan Bahasa Daerah: Menjaga Denyut Identitas Nusantara

Selasa, 14 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini:

Oleh: Nur Husen

Maluku Utara,newsline.id_ Di tengah arus globalisasi yang kian deras, bahasa daerah di Indonesia menghadapi ancaman serius. Generasi muda kini lebih akrab dengan bahasa asing atau bahasa nasional, sementara bahasa daerah yang menjadi akar budaya perlahan meredup.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Padahal, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi; ia adalah jembatan menuju warisan leluhur, cerminan identitas, dan penjaga kekayaan budaya bangsa. Pentingkah kita belajar bahasa daerah? Jawabannya tegas: sangat penting.

Bahasa daerah adalah kunci untuk memahami jiwa suatu komunitas. Setiap kata, frasa, dan ungkapan dalam bahasa daerah mengandung makna yang sarat dengan nilai-nilai lokal, cerita rakyat, hingga filsafat hidup masyarakatnya. Misalnya, dalam bahasa Jawa, istilah ngudi kasampurnan mencerminkan semangat mengejar kebaikan dan keseimbangan hidup, sementara dalam bahasa Minang, alam takambang jadi guru mengajarkan kita untuk belajar dari alam.

Nilai-nilai ini sulit diterjemahkan secara utuh ke dalam bahasa lain, sehingga kehilangan bahasa daerah berarti kehilangan sebagian kearifan lokal yang tak ternilai.

Namun, realitas menunjukkan bahwa penggunaan bahasa daerah terus menurun. Data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menunjukkan bahwa dari sekitar 718 bahasa daerah di Indonesia, puluhan di antaranya terancam punah. Faktornya beragam: urbanisasi, dominasi media berbahasa asing, hingga kurangnya penutur muda yang mewarisi bahasa tersebut. Di banyak daerah, anak-anak lebih fasih menggunakan bahasa gaul atau bahasa asing ketimbang bahasa ibu mereka.

Ini bukan hanya kehilangan linguistik, tetapi juga erosi identitas budaya yang membuat Indonesia begitu istimewa.

Belajar bahasa daerah bukan sekadar upaya pelestarian, tetapi juga investasi untuk masa depan. Dengan mempelajari bahasa daerah, generasi muda dapat memperluas wawasan mereka tentang sejarah, tradisi, dan nilai-nilai lokal yang membentuk karakter bangsa.

Bahasa daerah juga memperkaya kemampuan berpikir, karena setiap bahasa menawarkan cara pandang unik terhadap dunia. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang bilingual atau multilingual cenderung memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik, termasuk dalam pemecahan masalah dan kreativitas. Dengan kata lain, menguasai bahasa daerah tidak hanya memperkuat identitas, tetapi juga meningkatkan daya saing di era global.

Lantas, bagaimana caranya? Pemerintah, masyarakat, dan dunia pendidikan harus bersinergi. Pertama, integrasikan bahasa daerah dalam kurikulum sekolah secara menarik dan relevan. Alih-alih hanya menghafal kosa kata, ajak siswa memahami bahasa daerah melalui lagu, cerita rakyat, atau permainan tradisional. Kedua, manfaatkan teknologi.

Aplikasi pembelajaran bahasa daerah, konten media sosial, atau podcast berbahasa daerah dapat menarik minat generasi digital. Ketiga, libatkan komunitas lokal, seperti kelompok seni atau budayawan, untuk mengadakan festival bahasa dan budaya yang meriah.

Peran keluarga juga tak kalah penting. Orang tua dapat membiasakan anak-anak berbicara dalam bahasa daerah di rumah, misalnya melalui dongeng sebelum tidur atau percakapan sehari-hari. Dengan cara ini, bahasa daerah tidak hanya hidup di buku pelajaran, tetapi juga dalam keseharian.

Melestarikan bahasa daerah bukanlah tugas yang ringan, tetapi juga bukan misi yang mustahil. Ini adalah tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa kekayaan budaya Indonesia tetap lestari. Ketika kita berbicara dalam bahasa daerah, kita bukan hanya mengucapkan kata-kata, tetapi juga menghidupkan cerita nenek moyang, menjaga identitas, dan merayakan keberagaman Nusantara.

Mari kita jadikan bahasa daerah sebagai kebanggaan, bukan kenangan. Generasi yang peduli terhadap bahasa daerah adalah generasi yang mampu membawa Indonesia ke panggung dunia tanpa melupakan akar budayanya. Saatnya bertindak—sebelum bahasa daerah hanya menjadi bisikan di masa lalu.

 

Penulis: Nur Husen, S, H

 

Berita Terkait

Masyarakat Soroti Usulan Calon Kepala Sekolah SMA/SMK di Maluku Utara, Diduga Abaikan Integritas dan Disiplin
Diduga Calon Kepala Sekolah Bermasalah Ikut Seleksi, Pendidikan Maluku Utara Disorot
Larangan Medsos untuk Anak di Tengah Darurat Digital
Diduga Lakukan Pungutan Rp25 Juta, PLT Kepala SMA Negeri 2 Ternate Kembali Jadi Sorotan
Dana Desa Dipertanyakan, Kepala Desa Wayakuba Diduga Ingkari Pembayaran Material Pembangunan
Aroma Penyimpangan Dana Pemuda Tercium di Desa Wayakuba, Warga Desak Audit Inspektorat dan KPK
Judul: Maluku Utara dan Tanah Rempah Oleh: Asrul Umarama 
Judul:Maluku Utara dan Tanah Rempah Oleh: Asrul Umarama 
Berita ini 92 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 15:56

Masyarakat Soroti Usulan Calon Kepala Sekolah SMA/SMK di Maluku Utara, Diduga Abaikan Integritas dan Disiplin

Kamis, 12 Maret 2026 - 15:51

Diduga Calon Kepala Sekolah Bermasalah Ikut Seleksi, Pendidikan Maluku Utara Disorot

Rabu, 11 Februari 2026 - 18:27

Diduga Lakukan Pungutan Rp25 Juta, PLT Kepala SMA Negeri 2 Ternate Kembali Jadi Sorotan

Selasa, 27 Januari 2026 - 17:20

Dana Desa Dipertanyakan, Kepala Desa Wayakuba Diduga Ingkari Pembayaran Material Pembangunan

Jumat, 23 Januari 2026 - 18:37

Aroma Penyimpangan Dana Pemuda Tercium di Desa Wayakuba, Warga Desak Audit Inspektorat dan KPK

Berita Terbaru