Halmahera Tengah,newsline.id– Di sudut terpencil Desa Sawai Itepo, angin tidak lagi membawa kesejukan. Ia membawa debu merah dari alat berat yang tak kenal lelah menggerus tanah leluhur. Di tengah puing-puing hutan yang gundul dan sungai yang keruh oleh limbah industri, seorang bapak tua bernama Yesaya Badengo berdiri tegak, meski kakinya gemetar menahan perih. Ia tidak memegang senjata, tidak meneriakkan makian. Ia hanya melontarkan satu pertanyaan sederhana yang kini bergema lebih keras daripada deru mesin tambang PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (PT IWIP):
“Jika sudah dibayar, bayar ke siapa?”
Pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ini adalah tuduhan langsung ke jantung korupsi dan ketidakadilan yang selama ini disembunyikan rapi di balik laporan keuangan korporasi bermodal triliunan rupiah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
PT IWIP, melalui wakil HRD-nya, dengan arogansi khas oligarki industri, menyatakan dingin: “Lahan itu sudah dibayar.” Kalimat itu keluar begitu mudah, seolah kebenaran adalah komoditas yang bisa mereka beli dan atur sesuai keinginan. Namun, realitas di lapangan menampar wajah kemanusiaan kita semua: Yesaya Badengo, pemilik sah tanah tersebut, masih berdiri dengan tangan hampa.
Matanya yang merah bukan karena alergi debu nikel, melainkan karena menahan amarah atas penipuan yang sistematis. Jika uang kompensasi benar-benar telah cair, lalu ke mana alirannya?
- Apakah ada tangan-tangan tak terlihat di birokrasi desa atau perusahaan yang memotong hak warga?
- Apakah ada pemalsuan tanda tangan dan dokumen transfer atas nama orang yang tidak pernah memiliki tanah itu?
- Atau jangan-jangan, ini adalah strategi kotor perusahaan: mengklaim lunas untuk membungkam warga, berharap mereka terlalu miskin dan lelah untuk melawan mesin hukum yang mahal?
Ini bukan sengketa administrasi biasa. Ini adalah tragedi kemanusiaan. Bagaimana mungkin direksi PT IWIP bisa tidur nyenyak di atas kasur empuk hasil ekspor nikel, sementara di bawah kaki mereka, tanah tersebut basah oleh air mata pemilik aslinya yang kelaparan?
Kasus Yesaya Badengo hanyalah puncak gunung es dari buku hitam industri nikel di Halmahera Tengah. Mereka datang dengan bendera megah “Proyek Strategis Nasional” (PSN) dan janji kesejahteraan yang manis di lidah. Namun, apa yang tersisa bagi warga Sawai dan sekitarnya?
- Hutan adat yang habis digunduli.
- Sumber air yang tercemar logam berat.
- Dan yang paling menyakitkan: janji yang ingkar dan harga diri yang diinjak-injak.
Yesaya adalah simbol dari ratusan, bahkan ribuan warga kecil yang dianggap tidak punya suara. Mereka dianggap sebagai angka pengganggu dalam kalkulasi profit margin. Namun hari ini, suara Yesaya merobek keheningan. Suaranya memaksa kita semua yang masih memiliki nurani untuk bertanya: Sampai kapan rakyat kecil harus menjadi korban pembangunan yang serakah?
Kami, atas nama keadilan dan hati nurani bangsa, menolak mentah-mentah jawaban normatif PT IWIP. Kami mendesak manajemen puncak, dewan direksi, dan pemegang saham PT IWIP untuk segera melakukan tiga hal konkret, bukan sekadar janji manis di atas kertas:
1. TRANSPARANSI TOTAL: Buka seluruh data transaksi terkait lahan milik Yesaya Badengo di Desa Sawai Itepo. Tunjukkan bukti transfer bank yang sah, tunjukkan nama penerima dana, dan tunjukkan tanggal penetrasannya kepada publik dan lembaga independen. Jangan lagi berlindung di balik kalimat “sudah dibayar” tanpa bukti otentik. Jika ada penipuan, ungkap pelakunya!
2. PEMBAYARAN SEGERA & PERMINTAAN MAAF: Jika terbukti terjadi kesalahan administrasi atau kelalaian yang disengaja, cairkan hak Bapak Yesaya HARI INI JUGA, lengkap dengan bunga keterlambatan dan permintaan maaf terbuka yang tulus di hadapan warga.
3. HENTIKAN TEROR: Segera hentikan segala bentuk intimidasi, ancaman, dan pendekatan premanisme terhadap warga Sawai. Cukup sudah mereka hidup dalam ketakutan. Biarkan mereka bernapas lega di tanah mereka sendiri.
Kepada para petinggi PT IWIP: Cobalah sejenak menutup laptop berisi grafik keuntungan Anda. Dengarkanlah bukan dengan telinga korporasi yang tuli, tapi dengan hati manusia. Dengarkan tangis Itepo. Dengarkan pertanyaan Yesaya yang belum terjawab: “Bayar ke siapa?”
Apakah kalian tidak malu? Apakah kalian tidak merasa sakit melihat seorang bapak tua berjuang sendirian melawan raksasa besi yang kalian kendalikan? Apakah tumpukan emas dari nikel itu sebanding dengan menghancurkan satu nyawa dan martabat manusia?
Ingatlah sejarah. Air mata yang tertumpah karena ketidakadilan tidak akan menguap begitu saja. Ia akan mengendap menjadi bara api. Jika dibiarkan, bara ini akan menyala menjadi kobaran kemarahan rakyat yang akan membakar segala bentuk kesewenang-wenangan.
Jangan tunggu sampai ribuan warga turun ke jalan. Jangan tunggu sampai reputasi PT IWIP hancur lebur di mata dunia, dicap sebagai perampok tanah rakyat yang kejam. Selesaikan ini sekarang. Dengan cara yang manusiawi. Dengan cara yang bermartabat.
Karena pada akhirnya, tidak ada pembangunan yang mulia jika dibangun di atas puing-puing air mata warga kecil. Tuhan melihat segalanya. Rakyat mengingat segalanya. Dan sejarah akan mencatat dengan tinta merah: siapa yang berdiri di pihak kebenaran, dan siapa yang memilih menjadi bagian dari kejahatan yang sistematis.
Jangan menyerah, Bapak Yesaya. Perjuangan Bapak adalah perjuangan kami semua. Tanah ini mungkin sementara dirampas, tapi keadilan adalah hak mutlak yang akan kembali kepada mereka yang terus memperjuangkannya hingga titik darah penghabisan.
Tim/red











