Opini:
Penulis: Julfan Yon
Ketika kita berbicara tentang pelopor jurnalistik Indonesia, nama Tirto Adhi Soerjo sering kali menjadi sorotan. Namun, di balik gemerlap nama besar itu, ada sosok perempuan luar biasa yang turut menorehkan sejarah dengan tinta keberanian dan intelektualitasnya: Boki Fatimah, yang dikenal sebagai Prinses van Kasiruta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi saya, kisah Boki Fatimah bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sumber inspirasi yang membakar semangat untuk terus memperjuangkan kebenaran dan keadilan, terutama sebagai seorang perempuan.Berasal dari Bacan, Maluku Utara, Boki Fatimah adalah putri Sultan Bacan Muhammad Oesman Sadik. Ia bisa saja memilih hidup dalam kemewahan istana, menikmati privilège kebangsawanan. Namun, ia memilih jalan yang tak biasa: dunia jurnalistik, sebuah ranah yang pada awal abad ke-20 didominasi laki-laki dan penuh dengan tantangan.
Bersama suaminya, Tirto Adhi Soerjo, Boki Fatimah mendirikan Medan Prijaji pada 1907, surat kabar pertama di Hindia Belanda yang berani mengangkat isu-isu pribumi. Bagi saya, langkah ini bukan hanya terobosan jurnalistik, tetapi juga simbol emansipasi yang mendahului zamannya.
Sebagai anggota redaksi Medan Prijaji, Boki Fatimah menunjukkan keahlian yang luar biasa. Kefasihannya dalam berbahasa Melayu dan Belanda bukan sekadar keunggulan teknis, tetapi juga cerminan kecerdasannya dalam menjembatani dua dunia—budaya lokal dan pemikiran modern. Tulisan-tulisannya, meskipun terbatas catatan sejarah tentang detailnya, pasti sarat dengan semangat nasionalisme dan kepekaan sosial.
Bayangkan, seorang perempuan Maluku di era kolonial, berani mengambil pena dan bersuara di tengah tekanan budaya patriarki dan dominasi kolonial. Bukankah ini keberanian yang patut kita teladani?
Apa yang membuat saya begitu terkesan adalah bagaimana Boki Fatimah tidak hanya menjadi pendamping Tirto Adhi Soerjo, tetapi juga mitra intelektualnya. Ia bukan sekadar istri yang berdiri di belakang suami, tetapi seorang perempuan yang berjalan sejajar, berbagi visi untuk memperjuangkan keadilan sosial.
Dalam setiap baris yang ditulisnya, saya membayangkan ada semangat yang membara—semangat seorang putri Bacan yang memilih untuk melampaui batasan zaman dan membuktikan bahwa perempuan pun mampu mengukir perubahan.
Boki Fatimah adalah cerminan bahwa keberanian dan intelektualitas tidak mengenal gender. Ia mengajarkan saya bahwa warisan sejati bukanlah gelar atau kekayaan, tetapi jejak perjuangan yang menginspirasi generasi. Sebagai seorang yang percaya pada kekuatan kata-kata, saya melihat Boki Fatimah sebagai mercusuar dalam kegelapan sejarah, mengingatkan kita bahwa setiap suara, terutama suara perempuan, memiliki daya untuk mengubah dunia. Prinses van Kasiruta bukan hanya nama, tetapi simbol perlawanan, keberanian, dan harapan yang akan terus hidup dalam setiap pena yang menulis untuk kebenaran.











