Halmahera Barat, 10 Juni 2026 — Di balik pekerjaan penanganan banjir Sungai Ibu yang dilaksanakan oleh Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara, tersimpan kisah perjuangan dan harapan masyarakat untuk bangkit setelah bencana. Selain bertujuan memulihkan kondisi sungai dan melindungi wilayah sekitar dari ancaman banjir, kegiatan ini turut menghadirkan manfaat ekonomi bagi warga terdampak di Kecamatan Ibu dan sekitarnya, Kabupaten Halmahera Barat.
Melalui pelibatan tenaga kerja lokal dalam pekerjaan penanganan banjir pascabencana, masyarakat mendapatkan kesempatan untuk bekerja dan memperoleh penghasilan yang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi sebagian keluarga, pekerjaan tersebut menjadi sumber penghidupan yang sangat berarti di tengah upaya pemulihan pascabencana.
Salah satu warga yang merasakan manfaat tersebut adalah Bapak Nayo, warga Desa Tobaol, Kecamatan Ibu. Bersama beberapa rekannya, ia dipercaya untuk mengumpulkan kayu yang digunakan sebagai material cerucuk atau tiang pancang penahan pada pekerjaan bronjong di lokasi penanganan darurat Sungai Ibu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, pekerjaan tersebut tidak mudah. Mereka harus masuk ke kawasan pegunungan dan memikul kayu dalam jarak yang cukup jauh demi memenuhi kebutuhan material di lapangan. Namun, di balik beratnya pekerjaan itu, tersimpan semangat untuk ikut berkontribusi melindungi kampung halaman sekaligus menghidupi keluarga.
“Ada dua jenis kayu yang kami ambil, yaitu kayu sigigi dan gigi tipi dalam bahasa lokal. Kayu-kayu ini terkenal keras dan kuat sehingga cocok digunakan untuk pekerjaan tanggap darurat. Kami mengambilnya dari daerah pegunungan dan harus memikulnya cukup jauh. Walaupun berat, kami merasa bangga karena material ini digunakan untuk melindungi masyarakat Ibu, termasuk anak dan istri kami sendiri dari ancaman banjir,” ujar Bapak Nayo.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam pekerjaan penanganan banjir sangat membantu perekonomian warga yang terdampak. Penghasilan yang diperoleh menjadi penopang kebutuhan rumah tangga di tengah proses pemulihan pascabencana.
Hal senada disampaikan oleh Bapak Firist, salah satu warga yang juga terlibat dalam pekerjaan pengadaan kayu. Ia mengaku bersyukur mendapatkan kesempatan bekerja di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih pascabanjir.
Baginya, pendapatan yang diterima bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga, tetapi juga menjadi penopang biaya pendidikan anak yang sedang menempuh kuliah di luar daerah.
“Ketika tiba-tiba ada pekerjaan seperti ini, saya sangat bersyukur sekali. Penghasilannya sangat membantu menunjang biaya kuliah anak saya. Harapannya, mudah-mudahan masih ada pekerjaan tambahan ke depan, sehingga kami bisa terus membantu keluarga dan memenuhi kebutuhan pendidikan anak,” ungkapnya.
Kisah Bapak Nayo dan Bapak Firist menjadi gambaran bahwa pekerjaan penanganan banjir tidak hanya berfungsi sebagai upaya pemulihan infrastruktur dan perlindungan masyarakat dari risiko bencana, tetapi juga menghadirkan dampak sosial dan ekonomi yang nyata bagi warga sekitar. Di tengah tantangan pascabencana, kesempatan kerja yang tercipta mampu menumbuhkan harapan baru, membantu keluarga bertahan, serta mendukung cita-cita anak-anak mereka untuk terus melanjutkan pendidikan.
Melalui semangat gotong royong antara pemerintah dan masyarakat, penanganan banjir Sungai Ibu tidak hanya membangun kembali perlindungan sungai, tetapi juga membantu membangun kembali kehidupan dan masa depan warga yang terdampak.











