Labuha, newsline.id_ Halmahera Selatan – Hujan lebat yang mengguyur sepanjang malam pada Sabtu (21/6/2025) menyebabkan banjir di sejumlah wilayah di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Salah satu lokasi yang terdampak parah adalah Pondok Pesantren Alkhairaat di Labuha, yang kini menghadapi gangguan aktivitas belajar-mengajar akibat genangan air setinggi lutut orang dewasa.
Banjir yang melanda pondok pesantren ini memaksa para santri dan pembina berjibaku membersihkan lingkungan, termasuk area kamar mandi, serta menyelamatkan barang-barang penting milik mereka.
“Kami berupaya menjaga barang-barang berharga agar tidak rusak, tetapi banjir ini sangat mengganggu proses belajar anak-anak,” ungkap salah satu pembina pondok pesantren, kepada awak media pada Minggu pagi (22/6/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pembina Pondok Pesantren Alkhairaat juga menyampaikan permohonan mendesak kepada Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan agar memberikan perhatian khusus terhadap kondisi pondok pesantren. “Kami berharap pemerintah segera membantu, baik dalam penanganan banjir maupun pemulihan fasilitas agar kegiatan belajar dapat kembali normal,” tambahnya.
Di sisi lain, warga Labuha mengeluhkan minimnya sarana transportasi untuk evakuasi. Banyak pengungsi, termasuk anak-anak, bayi, dan lansia yang mengalami stroke, kesulitan menjangkau tempat aman karena tidak tersedianya speed boat sebagai alat transportasi utama di wilayah kepulauan ini.
“Kami sangat membutuhkan bantuan cepat. Ada bayi dan orang tua yang harus segera dievakuasi, tapi tidak ada transportasi yang memadai,” keluh seorang warga, dengan nada prihatin.
Hingga berita ini diturunkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halmahera Selatan belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah penanganan banjir. Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil tindakan konkret, seperti penyediaan transportasi evakuasi dan bantuan logistik, untuk meringankan beban warga dan memastikan keselamatan para pengungsi.

Banjir ini menjadi pengingat akan pentingnya infrastruktur tanggap bencana di wilayah rawan seperti Halmahera Selatan. Warga dan pihak pondok pesantren kini hanya bisa berharap agar bantuan segera datang, sehingga kehidupan mereka dapat kembali normal.
Penulis; Fan











