Kedaulatan Rakyat, Antara Janji Konstitusi dan Realitas yang Terpinggirkan

Selasa, 17 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh: kandi muhlis

newsline.id_ Dalam konstitusi kita, UUD 1945, termaktub dengan jelas bahwa “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.” Namun, realitas politik dan pemerintahan hari ini menunjukkan bahwa prinsip itu semakin menjauh dari kenyataan. Demokrasi kita tampaknya hanya hidup dalam prosedur, bukan dalam semangat dan substansi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemilu memang masih berjalan, partai politik masih aktif, dan parlemen terus bersidang. Namun, pertanyaan mendasarnya: apakah rakyat benar-benar menjadi penentu arah negara ini? Ataukah mereka sekadar penonton yang hanya diberi hak memilih sekali dalam lima tahun, lalu dilupakan?

Kenyataannya, kekuasaan semakin terkonsentrasi di tangan segelintir elite politik dan ekonomi. Partai politik, yang seharusnya menjadi penghubung antara rakyat dan negara, berubah menjadi kendaraan kekuasaan yang eksklusif. Proses rekrutmen politik didominasi oleh kekuatan uang dan jaringan kekuasaan, bukan oleh kualitas dan integritas calon pemimpin. Maka tak heran jika kebijakan publik seringkali lebih mencerminkan kepentingan kelompok tertentu, bukan kebutuhan rakyat luas.

Lihat saja bagaimana sejumlah undang-undang strategis disahkan tanpa dialog yang memadai dengan publik. UU Cipta Kerja, revisi KUHP, hingga regulasi pertambangan—semuanya ditetapkan dalam proses yang terburu-buru, mengabaikan gelombang kritik dari berbagai elemen masyarakat. Rakyat yang terdampak langsung, seperti petani, buruh, nelayan, hingga masyarakat adat, justru seringkali tidak dilibatkan dalam proses perumusan keputusan.

Sementara itu, jurang ketimpangan sosial terus melebar. Pembangunan infrastruktur yang dibanggakan kerap justru menyingkirkan warga dari tanahnya sendiri. Alam dieksploitasi, komunitas tercerabut, dan suara-suara kritis dibungkam. Semua ini mengindikasikan bahwa rakyat semakin kehilangan kendali atas negara yang seharusnya milik mereka.

Kedaulatan rakyat tidak boleh berhenti pada slogan dan seremoni. Ia harus hadir dalam praktik: dalam pengambilan keputusan yang partisipatif, dalam distribusi kekuasaan yang adil, dan dalam kebijakan yang berpihak pada kepentingan mayoritas, bukan segelintir elite.

Sudah saatnya rakyat tidak hanya diminta hadir saat pemilu, tetapi juga didengar dan diberdayakan dalam setiap tahap pembangunan bangsa. Demokrasi bukan hanya soal suara di kotak suara, tetapi soal siapa yang menentukan arah dan nasib negeri ini.

Jika negara benar-benar ingin disebut berkedaulatan rakyat, maka saatnya mendengarkan bukan hanya suara elite di parlemen, tetapi juga suara-suara kecil dari desa, dari kampus, dari jalanan, dan dari pinggiran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Dana Desa Dipertanyakan, Kepala Desa Wayakuba Diduga Ingkari Pembayaran Material Pembangunan
Aroma Penyimpangan Dana Pemuda Tercium di Desa Wayakuba, Warga Desak Audit Inspektorat dan KPK
Menyelamatkan Jiwa Perempuan Kampus: Menghidupkan Kembali Semangat Intelektual di Era Digital
Jurnalisme Bayaran: Pengkhianatan Etika di Balik Berita Pesanan
Pemberantas Hutan,Tanah dan laut Maluku Utara oleh bangsa asing
Membaca Rabiah Al-Adawiyah: Menggugah Jiwa Perempuan Maluku Utara untuk Bangkit
Kesadaran Pendidikan: Kunci Membuka Pintu Masa Depan Bangsa
Kursi Jabatan di Pendidikan Bukan Ajang Perebutan Tahta
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Januari 2026 - 17:20

Dana Desa Dipertanyakan, Kepala Desa Wayakuba Diduga Ingkari Pembayaran Material Pembangunan

Jumat, 23 Januari 2026 - 18:37

Aroma Penyimpangan Dana Pemuda Tercium di Desa Wayakuba, Warga Desak Audit Inspektorat dan KPK

Jumat, 24 Oktober 2025 - 13:40

Menyelamatkan Jiwa Perempuan Kampus: Menghidupkan Kembali Semangat Intelektual di Era Digital

Jumat, 24 Oktober 2025 - 08:55

Jurnalisme Bayaran: Pengkhianatan Etika di Balik Berita Pesanan

Rabu, 22 Oktober 2025 - 18:47

Pemberantas Hutan,Tanah dan laut Maluku Utara oleh bangsa asing

Berita Terbaru