Opini:
Oleh : Rahmat ikram
Rabiah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan legendaris dari abad ke-8, bukan sekadar nama dalam lembaran sejarah Islam. Ia adalah simbol keberanian, cinta ilahiah yang murni, dan perlawanan terhadap kungkungan duniawi dalam dunia patriarkal. Kisahnya, yang sarat dengan penolakan terhadap norma-norma yang membelenggu, menjadi cermin abadi bagi perempuan di mana pun, termasuk di Maluku Utara, untuk menemukan kekuatan dalam spiritualitas dan eksistensi mereka. Dalam konteks perempuan Maluku Utara, membaca Rabiah bukan sekadar menyelami masa lalu, tetapi merangkul inspirasi untuk menghadapi tantangan zaman dengan jiwa yang merdeka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rabiah al-Adawiyah lahir dalam kemiskinan dan hidup dalam keterasingan, namun justru dari sana ia menemukan kebebasan sejati. Ia menolak pernikahan, menolak cinta manusia yang dapat mengalihkannya dari cinta total kepada Tuhan, dan memilih jalan spiritual yang tidak biasa pada masanya. Doanya yang terkenal, “Jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya; jika aku menyembah-Mu karena ingin surga, haramkanlah surga bagiku,” adalah manifesto keikhlasan yang mengguncang. Rabiah bukan hanya sufi, tetapi juga revolusioner yang menunjukkan bahwa perempuan mampu mendobrak batas-batas sosial dan budaya demi kebenaran yang lebih tinggi.
Di Maluku Utara, kisah Rabiah terasa relevan karena perempuan di wilayah ini masih kerap terjebak dalam peran domestik yang sempit, di mana suara mereka sering kali teredam oleh struktur patriarkal dan keterbatasan akses terhadap pendidikan, ekonomi, serta ruang publik. Namun, seperti Rabiah, perempuan Maluku Utara memiliki potensi luar biasa untuk menjadi penggerak perubahan. Dari nelayan perempuan di Bacan yang menjaga kelangsungan keluarga, hingga aktivis di Ternate yang memperjuangkan hak-hak perempuan, mereka adalah bukti bahwa kekuatan perempuan tidak pernah benar-benar padam, hanya sering kali tersembunyi.
Maluku Utara, sebagai wilayah kepulauan di ujung timur Indonesia, menghadapi tantangan unik: keterbatasan infrastruktur, akses pendidikan yang tidak merata, dan norma budaya yang kadang kala masih menempatkan perempuan sebagai pelengkap, bukan pelaku utama. Dalam konteks ini, semangat Rabiah al-Adawiyah menjadi panggilan untuk melawan. Seperti Rabiah yang menolak dikekang oleh ekspektasi duniawi, perempuan Maluku Utara harus berani menentang norma yang membungkam potensi mereka—baik itu diskriminasi dalam pendidikan, kekerasan simbolik dalam budaya, atau marginalisasi dalam ruang publik.
Emansipasi perempuan di Maluku Utara tidak harus selalu berwujud demonstrasi besar atau pidato di panggung internasional. Seperti yang diajarkan Rabiah, keberanian bisa lahir dari kesunyian—dari ibu yang mendidik anak-anaknya dengan nilai kemanusiaan, guru yang membentuk generasi muda di pelosok Halmahera, atau pemimpin komunitas adat di Tidore yang mempertahankan kearifan lokal. Ini adalah jihad kultural yang tidak hanya memperjuangkan hak perempuan, tetapi juga memperkaya peradaban Maluku Utara.
Rabiah mengajarkan bahwa spiritualitas bukan pelarian dari dunia, melainkan bentuk tertinggi dari keberanian. Dalam konteks Maluku Utara, spiritualitas ini dapat menjadi fondasi bagi perempuan untuk menemukan kekuatan dalam menghadapi ketimpangan sosial dan ekonomi. Islam, sebagai agama mayoritas di wilayah ini, seharusnya menjadi alat pembebasan, bukan pembelenggu. Rabiah menunjukkan bahwa agama adalah ruang untuk memaknai ulang eksistensi, bukan untuk memenjara perempuan dalam peran-peran kaku.
Untuk itu, perempuan Maluku Utara perlu didorong menjadi subjek penuh dalam pembangunan daerah. Mereka bukan sekadar pelengkap dalam kebijakan atau simbol dalam narasi pembangunan, tetapi pelaku utama yang mampu menulis ulang sejarah, memimpin perubahan sosial, dan mewariskan nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan, akses ekonomi, dan ruang untuk bersuara harus menjadi prioritas agar perempuan dapat mengaktualisasikan potensi mereka sepenuhnya.
Kita hidup di era yang menuntut rekonstruksi pemikiran. Tradisi dan agama harus terus ditafsirkan ulang agar relevan dengan zaman tanpa kehilangan esensi. Rabiah al-Adawiyah adalah contoh bahwa keberanian untuk menantang status quo tidak bertentangan dengan nilai agama, tetapi justru memperkuatnya. Demikian pula, perempuan Maluku Utara harus didukung untuk menafsirkan ulang peran mereka dalam budaya dan agama, bukan sebagai pihak yang dipinggirkan, tetapi sebagai penggerak peradaban.
Membaca Rabiah al-Adawiyah adalah membaca keberanian perempuan untuk berdiri tegak di hadapan Tuhan dan dunia. Membaca perempuan Maluku Utara adalah mengenali potensi besar yang selama ini tersembunyi di balik tantangan geografis dan sosial. Kita membutuhkan lebih banyak perempuan yang berani bersuara, menulis, memimpin, dan mencintai kehidupan—nota bene, bukan karena mereka perempuan, tetapi karena mereka adalah manusia yang utuh, penuh daya, dan layak menentukan arah masa depan.
Rabiah al-Adawiyah mengajarkan bahwa kebebasan sejati lahir dari hati yang merdeka. Bagi perempuan asesor perempuan Maluku Utara, ini adalah saatnya untuk membebaskan diri dari belenggu budaya, tradisi, dan keterbatasan. Dengan semangat Rabiah, mereka dapat menjadi pelopor perubahan, membangun Maluku Utara yang lebih adil, inklusif, dan beradab. Mari kita dukung mereka untuk menjadi suara, kekuatan, dan cahaya bagi masa depan Nusantara.
Penulis: Rahmat Ikram,











