Pemberantas Hutan,Tanah dan laut Maluku Utara oleh bangsa asing

Rabu, 22 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Asrul Umarama
(Mahasiswa IlmuAdministrasi Negara,)

newaline.id- Tahun telah berganti angka, Maluku Utara telah berbahagia. Anak-anak telah dewasa, dan sudah mengetahui pentingnya hutan, tana, dan laut; untuk mereka membuat tempat bermain sepanjang hari. Pertama kali, mereka mendatangi laut untuk melihat dan; mereka berkata, laut ini akan kami jaga dan selalu membersihkannya karena hasil alam dan laut sangat penting bagi kami.

Akan tetapi, perubahan telah berganti dan tahun telah berganti lagi, angka yang dulunya kecil sekarang di ganti dengan angka besar dan sangat menyeramkan. Angin telah meniup suara klakson eksavator yang telah hadir tiupan ruvit untuk mengatur semuanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara, dunia meluku Utara telah di kepung oleh Mereka yang berpangkat. Mereka belum sempat melihat tana yang telah di gusur, pohon yang telah di cabut. Suara gemuruh tiba- tiba mendekat dan menjatuhkan pepohonan dengan enaknya mereka memuasnakan hutan dengan sangat kejam.

Maluku Utara, telah di huni abu dari pasir berwarna merah; dan laut telah dicemar logam dan saat hutan, laut, udara, sudah tidak lagi digunakan. Karena, pertambangan telah membuat itu semua. Pandangan masyarakat akan sudah tidak lagi menahan, Mereka hanya diam dan melihat apa yang sudah terjadi pada saat ini.

Perkataan yang telah di keluarkan dari mereka, kami hanya bisa hidup dengan hutan dan laut; karena dua- duanya bisa untuk makan dan minum. Tapi saat ini, sudah tidak seperti bisa, karena hutan telah di hancurkan, laut telah di cemar oleh logam dari pertambangan.

Laut, sungai, yang dulunya jernih bening kini telah tercemar lumpur dan logam. Warna air kini telah memera, Karena telah di pergunakan oleh perusahaan hanya untuk mengambil hasil alam dan tana yang Mereka gali membuang sisa-sisa lumpur dan logama sembarangan. Akhirnya manusia, hewan, dan ikan pun tumbang satu persatu karena dampak polusi dan cemar logam pertambangan.

Dalam sebuah Novel: yang menulis tentang Rempah Terakhir “menurut”:(Herman Oesman)

Dahulu kala, sebelum kapal- kapal asing menebar jangkar dan agama- agama datang janji keselamatan, sepotong surga yang jatuh ke laut. Demikian kata-kata yang dituturkan dari nenek ke cucu, dari dukun ke kampung murid-muridnya yang sebelum sempat mengenal alfabet, tapi tahu betul cengkih saat pertama kali makar di musim hujan.
Pulau itu tida besar. Hanya seluas doa yang di panjatkan di kala panen. Tapi aromanya melampaui batas-batas kerajaan dan samudra.

Di sinilah tumbuh rempah yang tidak hanya memikat selera dunia, tetapi juga membentuk cara hidup, cara percaya, bahkan cara mencintai. Cengkih yang harum dan keras kepala, pala yang manis sekaligus getir, semuanya tumbuh di tana ini seperti doa yang di jawab oleh alam.

Namun, meski dunia berubah pohon tetap berdiri. Di dalam diamnya, Mereka mencatat semua: dara yang tumpah di akarnya, perjanjian yang di tanda tangangani di bawah batangnya, dan cinta-cinta rahasia yang di peluk di antara daunya. Pohon- pohon ini menjadi semacam perpustakaan hidup, tempat waktu bergulung tanpa perlu tinta sampai kemudian datanglah tambang.

Hal manjadi satu kebijakan oleh Bangsa asing yang sedang membungkam dan menghancurkan hutan, tana, dan laut. Kekuasaan pun berpindah tangan ke kompeni pemerintah atau kerajaan yang beruang. Mereka mengatur dan mengambil hasil alam dengan paksa walaupun masyarakat tidak menerima suarat yang telah di berikan.

Bangsa asing dengan sendirinya datang untuk memberikan informasi ke masyarakat agar bisa tinggalkan lokasi ini. Apakah, hidup tanpa hutan, tana, dan laut ini kalian bisa hidup. Masyarakat mengatakan, kami buka anjing yang sekilas ada bunyian Pluit langsung bergerak lari.

Satuh hal terpenting bahwa hutan, tana, dan laut sangatlah penting, bagaimana menahan hidup dengan hasil sangat bermanfaat. karena dara kami sudah menyatu dengan hutan, tana dan laut. Kami bukan orang bodok. hanya saja pemerintah Indonesia yang di saat ini tidak becus dalam menjaga wilayah dari Sabang sampai Merauke. Jadi Maluku Utara

Berita Terkait

Dana Desa Dipertanyakan, Kepala Desa Wayakuba Diduga Ingkari Pembayaran Material Pembangunan
Aroma Penyimpangan Dana Pemuda Tercium di Desa Wayakuba, Warga Desak Audit Inspektorat dan KPK
Menyelamatkan Jiwa Perempuan Kampus: Menghidupkan Kembali Semangat Intelektual di Era Digital
Jurnalisme Bayaran: Pengkhianatan Etika di Balik Berita Pesanan
Membaca Rabiah Al-Adawiyah: Menggugah Jiwa Perempuan Maluku Utara untuk Bangkit
Kesadaran Pendidikan: Kunci Membuka Pintu Masa Depan Bangsa
Kursi Jabatan di Pendidikan Bukan Ajang Perebutan Tahta
Implikasi Etis Kecerdasan Buatan dalam Pengambilan Keputusan Publik: Sebuah Dilema Modern
Berita ini 43 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Januari 2026 - 17:20

Dana Desa Dipertanyakan, Kepala Desa Wayakuba Diduga Ingkari Pembayaran Material Pembangunan

Jumat, 23 Januari 2026 - 18:37

Aroma Penyimpangan Dana Pemuda Tercium di Desa Wayakuba, Warga Desak Audit Inspektorat dan KPK

Jumat, 24 Oktober 2025 - 13:40

Menyelamatkan Jiwa Perempuan Kampus: Menghidupkan Kembali Semangat Intelektual di Era Digital

Jumat, 24 Oktober 2025 - 08:55

Jurnalisme Bayaran: Pengkhianatan Etika di Balik Berita Pesanan

Rabu, 22 Oktober 2025 - 18:47

Pemberantas Hutan,Tanah dan laut Maluku Utara oleh bangsa asing

Berita Terbaru