Sofifi, newsline.id – 5 November 2025 Di tengah hiruk-pikuk Bundaran 40 Sofifi, Ibu Kota Provinsi Maluku Utara yang kian ramai, suara deru motor ojek bercampur tawa pedagang kaki lima menjadi irama sehari-hari. Namun, di balik kesibukan itu, ada cerita keluhan kecil yang sering terabaikan: kursi pedagang yang hilang misterius, atau gelak tawa remaja yang berubah menjadi tawuran di Taman Sofifi saat hari besar. Kini, angin segar hadir berkat langkah preventif Polwan Direktorat Samapta (Ditsamapta) Polda Maluku Utara. Mereka tak hanya patroli, tapi juga menjadi telinga dan tangan pelindung bagi warga.
Sejak September 2025, saat Polda Maluku Utara resmi pindah ke Sofifi, tim Polwan yang dipimpin Bribda Jilan Satirah Mochtar tak kenal lelah menjelajahi setiap sudut kota. Patroli bersambungan ini, yang mencakup siang hingga malam hari, menyasar seluruh lapisan masyarakat: dari tukang ojek yang melintas di Bundaran 40 hingga pedagang yang berjejer di seputar taman kota.
“Kami sering bertemu pedagang yang mengeluh kursi mereka hilang. Dari situ, kami putuskan untuk patroli setiap hari, bahkan malam hari,” ungkap Bribda Jilan Satira, dengan senyum hangat yang khas Polwan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan sekadar ronda biasa, patroli ini dirancang humanis. Setiap perjumpaan menjadi dialog: menanyakan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), mendengar curhatan, dan langsung bertindak. Hasilnya? Selama dua bulan terakhir—dari September hingga Oktober 2025—Sofifi tetap aman terkendali.
Tak ada laporan signifikan soal pencurian kecil-kecilan atau gangguan malam hari.
“Kami sudah patroli intensif sejak pindah ke sini. Alhamdulillah, selama dua bulan ini masih aman-aman saja,” tambah Jilan, yang ditemani rekan-rekan Polwan lainnya.
Keluhan masyarakat menjadi peta aksi mereka. Dari pedagang, muncul isu kursi hilang yang sering terjadi di area ramai seperti Bundaran 40. Sementara tukang ojek sering melaporkan “hotspot” tawuran remaja dan aksi mabuk-mabukan di Taman Sofifi, terutama saat hari besar seperti akhir pekan atau perayaan lokal.
“Anak-anak muda ini sering berkumpul di taman. Kami dengar laporan soal tawuran dan minuman keras. Makanya, patroli kami fokus ke sana, sambil beri edukasi agar mereka paham risikonya,” cerita Bribda Jilan, yang tak henti-hentinya menekankan pendekatan persuasif.
Langkah ini sejalan dengan komitmen Polda Maluku Utara pasca-pemindahan markas ke Sofifi, yang diresmikan 1 September 2025 bersamaan Hari Jadi Polwan ke-77. Pemindahan ini tak hanya logistik, tapi juga strategi untuk perkuat pelayanan keamanan di ibu kota provinsi. Seperti yang disampaikan Sekda Kota Tidore Kepulauan Ismail Dukomalamo saat syukuran perpindahan, kehadiran Polda di Sofifi diharapkan percepat pembangunan dengan rasa aman yang optimal. Patroli Polwan ini menjadi bukti nyata: polisi bukan musuh, tapi pelindung.
Lebih dari sekadar menjaga ketertiban, BribdaJilan menekankan misi emosional.
“Selama kami hadir di sini, semoga masyarakat tahu bahwa tugas polisi itu seperti apa: selalu melayani dan mengayomi. Bukan cuma tangkap, tapi dampingi dan bantu,” katanya dengan mata berbinar.
Polda Maluku Utara menegaskan, pengawasan ini akan berlanjut. “Kami tetap mengawasi demi ketertiban masyarakat Kota Sofifi. Sinergi dengan warga adalah kunci utama,” tegas Bribda Jilan, mewakili Direktorat Samapta.
Di tengah isu nasional soal keamanan kota, inisiatif Polwan ini layak jadi inspirasi: patroli bukan beban, tapi jembatan hati.
Sofifi kini bukan lagi sekadar pusat pemerintahan, tapi kota yang aman untuk semua. Dan saat matahari terbenam di Bundaran 40, suara pedagang yang tenang berbisnis menggantikan keluhan lama. Terima kasih, Polwan—kalian adalah pahlawan di balik seragam coklat.
Tim/red














