Halmahera Tengah, Maluku Utara –
Di tengah kesunyian dini hari pukul 03.00 WIT, suasana Desa Waibulan, Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, terasa sepi namun penuh harapan. Di salah satu sudut kampung, sebuah tempat penjualan santan kelapa pres milik Arman (42) masih menyisakan aroma khas kelapa segar yang baru saja diperas semalam.
Arman, warga asli Desa Waibulan, telah menjalankan usaha santan kelapa pres ini selama hampir 7 tahun. Setiap hari, mulai pukul 02.00 dini hari, ia bersama istri dan beberapa karyawan sudah mulai memarut dan memeras ratusan butir kelapa yang didatangkan dari kebun-kebun warga sekitar. Hasilnya adalah santan kental dan murni tanpa campuran yang kini menjadi langganan tetap puluhan warung makan, rumah tangga, hingga pedagang kue di Weda Tengah dan sekitarnya.
“Dari dulu saya lihat santan kelapa di sini selalu dicari orang, tapi kebanyakan masih dijual secara tradisional dalam plastik biasa. Saya ingin lebih rapi, lebih higienis, dan bisa bertahan lebih lama,” ujar Arman saat ditemui di lokasi usahanya, Selasa dini hari (09/12/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kini, tempat penjualan santan kelapa milik Arman sudah dilengkapi dengan mesin pres modern, kemasan botol plastik food grade 250 ml dan 500 ml, serta stiker label bertuliskan “Santan Kelapa Pres Waibulan – Murni Tanpa Pengawet”. Dalam sehari, Arman mampu memproduksi hingga 300–400 liter santan, tergantung musim dan permintaan pasar.
Meski usahanya sudah cukup dikenal di Weda Tengah, Arman mengaku memiliki mimpi yang jauh lebih besar. Ia ingin tempat penjualan santan kelapa pres miliknya bisa berkembang menjadi usaha skala menengah yang mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal dan menjangkau pasar yang lebih luas, bahkan hingga luar Halmahera Tengah.

“InsyaAllah ke depan saya ingin punya gedung produksi yang lebih representatif, tambah mesin yang lebih besar, dan modern, serta bisa ekspor santan dalam kemasan ke kota-kota besar seperti Ternate, Manado, bahkan luar Maluku Utara. Yang terpenting, saya ingin anak-anak muda di Waibulan punya pekerjaan di sini, tidak perlu merantau jauh,” tutur Arman penuh semangat.
Arman juga berencana mengajukan bantuan modal usaha dan pelatihan pengemasan produk olahan kelapa kepada pemerintah kabupaten maupun provinsi. Ia optimistis, dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, usaha santan kelapa pres khas Waibulan bisa menjadi salah satu ikon produk unggulan Halmahera Tengah.
Dukungan Warga dan Pemerintah Desa
Kepala Desa Waibulan, Bapak Salim Tomayahu, saat dimintai keterangan mengapresiasi langkah Arman.
“Pak Arman ini contoh warga kita yang mau berusaha keras. Usahanya sudah banyak membantu perekonomian warga, mulai dari pemilik kebun kelapa hingga ibu-ibu yang membantu memarut. Kami dari pemerintah desa siap mendampingi agar usaha beliau semakin maju,” kata Salim.
Hingga dini hari ini, Arman dan keluarganya masih sibuk menyiapkan pesanan untuk pagi nanti. Di balik riuh mesin pres dan tawa kecil karyawan, tersimpan harapan besar seorang anak desa yang ingin membawa nama Waibulan lebih dikenal melalui setetes demi setetes santan kelapa murni.
Semoga langkah Arman menjadi inspirasi bagi pelaku usaha kecil lainnya di pelosok Maluku Utara, bahwa dari desa pun, mimpi besar bisa diraih.












