Anak-Anak Desa Lelilef Woebulen Jadi Korban Abu Tambang PT IWIP: “Di Weda Sudah Bagus, Tapi Anak Kami yang Menderita”

Kamis, 20 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Halmahera Tengah_, 19 November 2025 – Kehadiran PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, memang membawa perubahan besar bagi wilayah Weda. Banyak warga mengakui ada kemajuan ekonomi dan infrastruktur, tapi di balik itu, anak-anak setempat kini jadi korban utama polusi abu dan debu dari aktivitas tambang serta PLTU batubara.

Seorang warga Desa Lelilef Woebulen (yang sering disebut Waibulaen oleh masyarakat lokal), Kecamatan Weda Tengah, dalam wawancara dengan berbagai media termasuk investigasi independen, menyampaikan keluh kesah yang sama:

“Di Weda sini so bagus sudah… tapi tong pe anak-anak cadi korban dengan adanya abu tambang ini. Pemerintah harus perhatikan lagi soal kasus ini.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kalimat itu mencerminkan perasaan ribuan warga di lingkar tambang IWIP. Mereka mendapat pekerjaan dan jalan bagus, tetapi anak-anak mereka setiap hari menghirup debu tebal dari truk-truk pengangkut material, asap PLTU, dan abu batubara yang beterbangan hingga masuk ke rumah-rumah.
Debu Masuk Rumah, Anak-anak Batuk Terus
Rakiba (32), ibu dua anak di Lelilef Woebulen, bercerita anaknya kerap batuk-batuk hanya karena bermain di halaman rumah.

“Debu ini masuk ke dalam rumah, ke kasur, ke makanan. Anak saya sering batuk, pilek, sampai sesak napas. Saya sudah batasi dia keluar rumah, tapi tetap saja kena,” katanya dengan raut wajah khawatir.

Data Puskesmas Lelilef menunjukkan sejak 2023, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan common cold menjadi dua penyakit terbanyak di wilayah Weda Tengah dan Weda Utara. Kasus ISPA meningkat hingga 1.116 orang hanya dalam periode 2023–2024, dan mayoritas pasien adalah anak-anak.

Petugas kesehatan setempat menyatakan anak-anak lebih rentan karena sistem imun mereka belum kuat, sementara paparan debu dan polusi udara terjadi setiap hari. Jarak Desa Lelilef Woebulen dengan kawasan IWIP hanya sekitar 600 meter dari sekolah dan Posyandu.

Bukan Hanya Debu, Air Sumur Juga Tercemar
Penelitian Poltekkes Kemenkes Ternate (Juni 2025) menemukan 55,71% sampel air sumur warga Lelilef Woebulen mengandung nikel melebihi Nilai Ambang Batas. Sebanyak 70 sampel juga positif E.Coli. Warga kini takut memakai air sumur untuk minum atau memasak, tapi air bersih dari perusahaan sering telat datang atau tidak cukup.

Anak-anak tak hanya menderita batuk dan ISPA, tapi juga diare berulang karena sanitasi buruk dan air yang sudah tercemar.
Suara Warga yang Sama dari Tahun ke Tahun
Abdullah Saleh (63), tetua adat Lelilef Woebulen, mengatakan:

“Dulu anak-cucu kami bisa main di pantai, ke hutan sagu, mancing ikan bersih. Sekarang semuanya tercemar. Abu tambang ini bikin anak-anak kami sakit terus. Warisan kami hilang.”

Keluhan serupa sudah disampaikan berulang kali ke pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten. Namun hingga kini, belum ada tindakan tegas yang benar-benar menyelesaikan sumber polusi.

PT IWIP sendiri mengklaim telah melakukan berbagai upaya mitigasi dan komitmen ESG (Environmental, Social, Governance), namun warga mengatakan debu dan abu masih tetap beterbangan setiap hari, terutama saat musim kemarau.

Pemerintah Harus Bertindak Nyata
Masyarakat lingkar IWIP kini hanya minta satu hal: pemerintah pusat dan daerah benar-benar memperhatikan nasib anak-anak mereka.

“Kalau terus begini, generasi Weda nanti jadi generasi sakit, bukan generasi emas,” ujar salah satu ibu di Posyandu Lelilef.

Anak-anak Weda Tengah tidak seharusnya jadi tumbal kemajuan industri nikel. Abu tambang yang menyelimuti rumah mereka setiap hari adalah bukti nyata bahwa “kebagusan” yang dibanggakan itu masih sangat mahal harganya.

Sumber: Investigasi lapangan newsline.id (September 2025), data Dinas Kesehatan Halmahera Tengah, Poltekkes Kemenkes Ternate, serta kesaksian langsung warga Desa Lelilef Woebulen, Kecamatan Weda Tengah.

TIM: REDAKSI

Berita Terkait

Diduga Kepala Pasar Rakyat Weda Aba Dar Sering Mengganggu Warga, Dilaporkan Sudah Berulang Kali
Anggota DPRD Kabupaten Gelar Reses untuk Serap Aspirasi Masyarakat, Di Daerah Pemilihan (Dapil) masing-masing.
Santan Kelapa Pres di Desa Waibulan Menuju Usaha yang Lebih Luas dan Modern
Tragedi Kelam di Waibulan: Bocah 8 Tahun Jadi Korban Pencabulan, Polisi Diminta Segera Bertindak
Penyaluran Bantuan Insentif dan Gaji di Desa Nusliko Bertepatan dengan momen HUT Kabupaten Halmahera Tengah ke-35
DWP UNSUR Pelaksana BPKAD Tandatangani MoU dengan Puskesmas Kecamatan Weda
Tragedi di Tengah Tambang: Kisah Pilu Lex, Pekerja yang Terhempas Derita Batin Setelah Dikhianati Istri.
Bupati Halmahera Tengah Hadiri Rakor Hilirisasi Perkebunan Bersama Menteri Pertanian di Ternate
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 18 Januari 2026 - 15:29

Diduga Kepala Pasar Rakyat Weda Aba Dar Sering Mengganggu Warga, Dilaporkan Sudah Berulang Kali

Sabtu, 20 Desember 2025 - 07:07

Anggota DPRD Kabupaten Gelar Reses untuk Serap Aspirasi Masyarakat, Di Daerah Pemilihan (Dapil) masing-masing.

Rabu, 10 Desember 2025 - 08:37

Santan Kelapa Pres di Desa Waibulan Menuju Usaha yang Lebih Luas dan Modern

Sabtu, 22 November 2025 - 21:12

Tragedi Kelam di Waibulan: Bocah 8 Tahun Jadi Korban Pencabulan, Polisi Diminta Segera Bertindak

Kamis, 20 November 2025 - 08:54

Anak-Anak Desa Lelilef Woebulen Jadi Korban Abu Tambang PT IWIP: “Di Weda Sudah Bagus, Tapi Anak Kami yang Menderita”

Berita Terbaru