Ternate, newsline.id – Suasana tegang menyelimuti Kelurahan Jambula, Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, Maluku Utara, pagi ini. Ratusan warga, termasuk nelayan, pemuda, dan perwakilan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), melakukan aksi blokade jalan utama menuju Depot Pertamina sejak pukul 06.00 WIT.
Aksi ini, yang disertai spanduk besar bertuliskan “Jambula Tutup Kampong!” dan “LPM, Pemuda, Nelayan, dan Masyarakat Menggugat”, merupakan jeritan keputusasaan masyarakat pesisir terhadap janji manis pemerintah yang tak kunjung terealisasi.
Gelombang tinggi yang kerap menerjang pantai Jambula telah menjadikan kehidupan nelayan seperti mimpi buruk berulang. “Ombak kemarin menyebabkan beberapa perahu nelayan rusak parah, dan jembatan-jembatan juga ikut hancur,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebut namanya, seperti dikutip dari laporan lapangan. Akibatnya, aktivitas melaut terhenti total, sementara infrastruktur vital seperti saluran air (sewage) dan jalan rusak berat, memaksa warga berjuang bertahan di tengah banjir dan isolasi. Blokade ini bahkan melumpuhkan pengangkutan Bahan Bakar Minyak (BBM) dari depot, mengancam pasokan energi di seluruh wilayah Ternate.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aksi protes ini bukanlah yang pertama. Warga Jambula telah berulang kali menyuarakan aspirasi pembangunan breakwater – pemecah ombak yang krusial untuk melindungi pemukiman dan aktivitas perikanan.
“Kami sudah menunggu bertahun-tahun. Janji Pemkot Ternate dan Pemprov Maluku Utara hanya omong kosong,” keluh perwakilan nelayan, menyoroti kekecewaan mendalam terhadap pemerintah daerah.
Demonstran menggunakan perahu nelayan sebagai barikade simbolis, menegaskan identitas mereka sebagai tulang punggung ekonomi lokal yang kini terpinggirkan.
Latar belakang masalah ini berakar pada kerentanan geografis Jambula sebagai kampung nelayan di pesisir Ternate. Cuaca buruk dan gelombang ekstrem, yang semakin sering akibat perubahan iklim, telah merenggut mata pencaharian ratusan keluarga. Meski program seperti “Kampung Nelayan Maju” pernah menjanjikan bantuan sarana produksi, realisasinya minim dan tak menjangkau kebutuhan dasar seperti perlindungan pantai. Hari ini, tuntutan warga jelas: segera bangun breakwater, perbaiki jalan dan saluran air yang hancur, serta libatkan Pemprov untuk turun tangan langsung.
Hingga sore ini, belum ada respons resmi dari Pemerintah Kota Ternate atau Polisi setempat. Warga menyatakan siap membubarkan blokade jika ada komitmen konkret, tapi tekad mereka bulat:
“Jika tidak ada perubahan, Jambula akan tetap tutup kampung!”
Suasana di lokasi aksi tetap terkendali, dengan warga berbagi makanan dan cerita sambil menjaga posisi. Pertanyaan besar kini bergantung pada langkah pemerintah: akankah jeritan pesisir ini akhirnya didengar, atau Jambula harus terus berjuang sendirian melawan ombak yang tak kenal ampun?
Penulis: FHAN











