Halsel newsline.id_Rumah Sakit (RS) Pratama di Desa Bisui, Kecamatan Gane Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, kini berada dalam kondisi memprihatinkan akibat kerusakan parah dan pengelolaan yang dinilai buruk. Bangunan rumah sakit mengalami kerusakan signifikan, termasuk atap yang bocor, plafon ambruk, dinding retak, serta halaman yang ditumbuhi semak belukar.
Sejumlah fasilitas kesehatan vital juga tidak berfungsi, menyebabkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat setempat terhambat. Kondisi ini memicu kemarahan warga, yang menuding Direktur RS Pratama Bisui, Dr. Elisabeth Bernadete, bersikap acuh tak acuh.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kerusakan fasilitas telah berlangsung lama tanpa perbaikan memadai. Hal ini membuat banyak pasien memilih berobat ke tempat lain karena merasa tidak nyaman dan khawatir akan keselamatan mereka. Seorang tokoh pemuda Desa Bisui mengungkapkan kekecewaannya,
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Rumah sakit ini seharusnya jadi harapan masyarakat untuk pelayanan kesehatan yang cepat dan layak, tapi kenyataannya terbengkalai. Direktur terkesan tutup mata. Kami minta Bupati segera copot direktur yang tidak bertanggung jawab!” tegasnya pada Selasa, 9 Juli 2025.

Tokoh masyarakat setempat juga menyuarakan keprihatinan serupa, menyebut RS Pratama Bisui sudah tidak layak disebut fasilitas kesehatan. “Pemerintah daerah harus segera turun tangan. Jika dibiarkan, kerusakan akan semakin parah. Lebih baik ditutup kalau tidak bisa dikelola dengan baik,” ujarnya.
Menanggapi kritik tersebut, Dr. Elisabeth Bernadete, Direktur RS Pratama Bisui, menyatakan bahwa anggaran untuk perbaikan sarana dan prasarana berada di bawah kendali Dinas Kesehatan sebagai Pengguna Anggaran, bukan bagian dari anggaran operasional rutin rumah sakit. Ia juga menegaskan bahwa isu gaji tenaga kesehatan (nakes) sepenuhnya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan. Pernyataan ini disampaikan pada 9 Juli 2025, namun tidak meredakan kekecewaan warga.
Warga mendesak Bupati Halmahera Selatan, Bassam Kasuba, untuk segera mengambil langkah tegas, termasuk mengevaluasi atau mencopot Dr. Elisabeth dari jabatannya, yang mereka nilai gagal mengelola rumah sakit. Mereka juga menuntut alokasi anggaran segera untuk memperbaiki fasilitas agar RS Pratama dapat kembali berfungsi optimal.
Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari bupati atau Dinas Kesehatan terkait rencana perbaikan atau evaluasi pengelolaan rumah sakit.
Kondisi RS Pratama Bisui mencerminkan tantangan besar dalam penyediaan layanan kesehatan di daerah terpencil. Tanpa intervensi cepat dan terkoordinasi dari pemerintah daerah, harapan masyarakat Bisui untuk mendapatkan akses kesehatan yang layak tampaknya akan semakin sulit terwujud. Masyarakat kini menanti tindakan konkret dari bupati untuk mengatasi krisis ini, baik melalui perbaikan fasilitas maupun reformasi pengelolaan rumah sakit.
Tim/Red











