Ternate, – Ratusan penumpang kapal penyeberangan di Pelabuhan Bastiong, Kota Ternate, Maluku Utara, mengeluhkan sulitnya naik ke kapal karena area penumpang dipenuhi mobil-mobil barang dan truk yang parkir sembarangan hingga ke ujung dermaga.
“Kami tong mau nae kapal susah sekali, jalannya ponong mobil-mobil barang. Anak kecil sama orang tua sampai harus memanjat di atas truk baru bisa lewat. Ini sudah sering sekali terjadi,” keluh Rina, salah seorang penumpang KM SUMBER RAYA05 dan Bunda maria yang hendak berangkat ke Bacan, Senin (8/12/2025) malam.

Menurut pantauan di lapangan, puluhan kendaraan roda empat dan truk pengangkut barang parkir seenaknya di area yang seharusnya steril untuk penumpang pejalan kaki. Akibatnya, antrean penumpang mengular dan banyak yang terpaksa berjalan di antara deretan kendaraan besar dengan risiko tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sudah berkali-kali kami lapor ke petugas, tapi tetap begini terus. Syahbandar mana? Kok seperti lalai menertibkan ini semua,” tambah Hasan, penumpang lain yang kesal karena terlambat naik kapal hampir satu jam.
Beberapa penumpang juga mengunggah video dan foto kondisi pelabuhan ke media sosial dengan tagar #PelabuhanBastiongAmburadul dan #SyahbandarTertidur, yang langsung viral di kalangan warga Ternate dan Maluku Utara.
Syahbandar, hingga berita ini diturunkan, belum berhasil dikonfirmasi. Namun salah seorang petugas pelabuhan yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa kendaraan barang memang sering “mencuri start” masuk area penumpang karena kurangnya pengawasan dan koordinasi dengan perusahaan angkutan barang.
Warga berharap pihak Syahbandar dan otoritas pelabuhan segera mengambil tindakan tegas, seperti memasang pembatas permanen, menambah personel pengawas, atau memberikan sanksi kepada sopir truk yang parkir sembarangan, agar keselamatan dan kenyamanan penumpang tidak lagi terabaikan.
Kondisi serupa sebenarnya pernah menjadi sorotan pada tahun-tahun sebelumnya, namun hingga kini keluhan yang sama terus berulang, membuat publik semakin kecewa terhadap pengelolaan Pelabuhan Bastiong sebagai pintu gerbang utama Provinsi Maluku Utara.
Tim/red











