Dominasi Simbolik: Kekuasaan yang Menyisihkan Kebenaran di Tengah Masyarakat

Minggu, 12 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini

Oleh: Rahmat Ikram

newsline.id_ Di tengah kehidupan masyarakat pedesaan yang kerap dianggap sederhana, sebuah fenomena bernama dominasi simbolik muncul sebagai ancaman nyata. Fenomena ini, seperti diungkapkan Rahmat Ikram, merujuk pada penggunaan simbol—baik berupa benda, jabatan, maupun status sosial—untuk menguasai, menindas, dan memanipulasi individu atau kelompok lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam realitas sehari-hari, dominasi simbolik telah menjadi alat bagi mereka yang memiliki kekuatan ekonomi, politik, atau pendidikan untuk mempertahankan dan memperluas pengaruhnya dengan cara yang sering kali tidak bermoral.

Simbol, seperti jabatan di instansi atau kekayaan materi, telah lama tertanam dalam kehidupan manusia sejak mereka mulai berkarya di berbagai bidang.

Namun, permasalahan muncul ketika simbol-simbol ini digunakan untuk mendiskriminasi dan menindas. Di banyak desa, individu atau kelompok dengan kekuatan ekonomi sering kali memanfaatkan posisi mereka untuk menduduki jabatan strategis di instansi lokal. Dengan ambisi yang membara, mereka mempermainkan simbol-simbol tersebut untuk menguasai pikiran masyarakat, membatasi kebebasan orang lain, hingga menyebarkan propaganda negatif untuk menjatuhkan pihak yang dianggap sebagai ancaman.

Contoh nyata dari fenomena ini terlihat dalam praktik politik desa, di mana seorang individu dengan latar belakang ekonomi kuat mampu memengaruhi keputusan masyarakat melalui janji-janji manis atau wacana yang menyesatkan.

Mereka membangun narasi yang memuliakan diri sendiri sambil merendahkan pihak lain, menciptakan polarisasi di tengah komunitas yang seharusnya harmonis.

Akibatnya, kepercayaan masyarakat terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan mulai terkikis.

Menanggapi fenomena ini, filsuf Yunani kuno, Plato, pernah menyampaikan pandangan yang relevan hingga kini. Ia menegaskan bahwa kesenangan dan kebahagiaan sejati tidak dapat diraih melalui kepuasan hawa nafsu atau ambisi duniawi.

Dalam konteks dominasi simbolik, Plato mengingatkan bahwa manusia, sebagai agen pengendali dalam berbagai bidang kehidupan, harus kembali pada jalan kebenaran. Tugas manusia bukanlah mengejar kekuasaan demi kepentingan pribadi, melainkan menciptakan nilai-nilai kebaikan yang selaras dengan fungsi dan tanggung jawab mereka di masyarakat.

Pernyataan Plato ini menjadi pengingat bahwa kekuasaan, baik dalam bentuk jabatan, harta, atau pengaruh, seharusnya digunakan untuk kebaikan bersama, bukan untuk menindas atau memanipulasi.

Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Banyak individu yang terjebak dalam ambisi pribadi, memanfaatkan simbol-simbol kekuasaan untuk mempertahankan dominasi mereka, alih-alih membangun harmoni sosial.

Untuk mengatasi dominasi simbolik, diperlukan kesadaran kolektif dari masyarakat. Pendidikan menjadi kunci utama untuk membekali individu dengan kemampuan berpikir kritis, sehingga mereka tidak mudah terpengaruh oleh propaganda atau wacana manipulatif.

Selain itu, transparansi dalam pengelolaan instansi lokal dan pemerataan akses ekonomi dapat mengurangi kesenjangan yang menjadi akar dominasi simbolik.

Pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan juga perlu berperan aktif dalam menciptakan ruang dialog yang inklusif. Dengan demikian, masyarakat dapat lebih kritis terhadap simbol-simbol kekuasaan yang sering disalahgunakan.

Seperti yang dikatakan Plato, kebahagiaan sejati hanya dapat diraih ketika manusia hidup sesuai dengan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Dominasi simbolik bukanlah sekadar masalah individu, tetapi cerminan dari dinamika sosial yang lebih luas. Untuk membangun masyarakat yang adil dan harmonis, setiap individu harus menyadari tanggung jawabnya sebagai bagian dari komunitas. Dengan kembali pada nilai-nilai kebenaran dan menolak manipulasi simbolik, masyarakat pedesaan dapat melangkah menuju kehidupan yang lebih bermartabat.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kekuasaan sejati bukanlah tentang menguasai orang lain, tetapi tentang memberdayakan mereka untuk hidup lebih baik. Seperti kata Plato, kebahagiaan sejati terletak pada kebaikan yang kita ciptakan, bukan pada simbol-simbol yang kita kejar.

 

Penulis: Rahmat ikram

Berita Terkait

Antisipasi Cuaca Buruk 7–9 Oktober: Wali Kota Tegaskan Keselamatan Warga Pesisir Harus Diutamakan
Dugaan Operasi Pangkalan Kayu Tanpa Izin di Jailolo, Papan UD Tidak Terpasang
Dugaan Prostitusi Terselubung di Q’One Massage Green Garden: Sosok DA Diduga Lindungi Praktik Ilegal, Media Marwah Terlibat Kontroversi
PT. RIMBA KURNIA ALAM SITE PT. WANATIARA PERSADA DIGUGAT KE DISNAKERTRANS DAN PENGADILAN
Film “Jalan Pulang”: Cinta Seorang Ibu Diterpa Kengerian Gaib
Pentasan Seni Budaya Mahasiswa Nuku di Dusun Bula Tikep
Warga Desa Waimili Menutut Bupati Halmahera Selatan belum menepati janjinya.
Arianto Hi Ali, S,Pd. Kini Menanggapi Berita Yang Mengatakan Dirinya lalai Dalam Tugas sebagai P3K.
Berita ini 79 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 12 Oktober 2025 - 14:36

Dominasi Simbolik: Kekuasaan yang Menyisihkan Kebenaran di Tengah Masyarakat

Rabu, 8 Oktober 2025 - 12:11

Antisipasi Cuaca Buruk 7–9 Oktober: Wali Kota Tegaskan Keselamatan Warga Pesisir Harus Diutamakan

Senin, 29 September 2025 - 20:19

Dugaan Operasi Pangkalan Kayu Tanpa Izin di Jailolo, Papan UD Tidak Terpasang

Rabu, 17 September 2025 - 10:19

Dugaan Prostitusi Terselubung di Q’One Massage Green Garden: Sosok DA Diduga Lindungi Praktik Ilegal, Media Marwah Terlibat Kontroversi

Senin, 14 Juli 2025 - 19:45

PT. RIMBA KURNIA ALAM SITE PT. WANATIARA PERSADA DIGUGAT KE DISNAKERTRANS DAN PENGADILAN

Berita Terbaru